Bagikan ini :

Tafsir Ayat Kesatu

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Artinya, “Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Makna dari bacaan ini yaitu, “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta keberkahan dengan menyebut seluruh nama Alloh.” 

Meminta keberkahan kepada Alloh  artinya meminta tambahan kebaikan dan peningkatan amal solih serta pahalanya yang akan mengantarkan dirinya ke dalam surga.

Semua keberkahan adalah milik Alloh . Dia-lah yang memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi, keberkahan bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki.

Tafsir Ayat Kedua

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِ

“Segala puji bagi Alloh Robb seru sekalian alam.”

Makna Alhamdu adalah pujian kepada Alloh karena sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Juga karena perbuatan-perbuatanNya selalu memberikan karunia atau menegakkan keadilan. Perbuatan Alloh senantiasa mengandung hikmah yang sempurna.

Pujian seorang hamba akan semakin bertambah sempurna apabila diiringi dengan rasa cinta dan ketundukkan kepada Alloh . Karena pujian semata yang tidak disertai dengan rasa cinta dan ketundukkan bukanlah pujian yang sempurna.

Makna dari kata Robb adalah pembimbing dan pemelihara. Alloh lah yang memelihara seluruh alam dengan berbagai macam bentuk pemeliharaan. Alloh mencipta, memberikan rezeki, dan memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin.

Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk. Adapun tarbiyah khusus hanya diberikan kepada para nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Alloh juga memberikan kepada mereka tarbiyah khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya.

Selain itu, Alloh juga menolong mereka dengan menyingkirkan segala macam penghalang dan rintangan yang akan menjauhkan mereka dari kebaikan dan kebahagiaan mereka yang abadi. Alloh memberikan kepada mereka berbagai kemudahan dan menjaga mereka dari hal-hal yang dibenci oleh syariat.

Dari sini kita mengetahui betapa besar kebutuhan alam semesta ini kepada Robbul ‘alamiin karena hanya Dialah yang menguasai itu semua. Alloh satu-satunya pengatur, pemberi hidayah dan Alloh lah Yang Maha kaya. Oleh sebab itu, semua makhluk yang ada di langit dan di bumi ini meminta kepada-Nya. Baik meminta dengan ucapan lisannya maupun dengan ekspresi dirinya. Kepada-Nya lah mereka mengadu dan meminta tolong di saat-saat genting yang mereka alami.

Tafsir Ayat Ketiga

الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Ar-Rohman dan Ar-Rohiim adalah dua nama Alloh . Sebagaimana diyakini oleh Ahlusunnah wal Jama’ah bahwa Alloh memiliki nama-nama yang terindah. Alloh berfirman,

“Alloh memiliki nama-nama terindah, maka berdo’alah kepada Alloh dengan menyebutnya.” (QS. Al A’rof [7]: 180)

Setiap nama Alloh mengandung sifat. Oleh sebab itu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan kepada Alloh . Dalam mengimani nama-nama dan sifat-sifat Alloh ini kaum muslimin terbagi menjadi 3 golongan yaitu: Musyabbihah, Mu’aththilah, dan Ahlusunnah wal Jama’ah.

Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat-sifat Alloh dengan sifat makhluk. Mereka terlalu mengedepankan sisi penetapan nama dan sifat, akan tetapi mengabaikan sisi peniadaan kesamaan sehingga terjerumus dalam tasybih (peyerupaan).

Adapun Mu’aththilah adalah orang-orang yang menolak nama atau sifat-sifat Alloh . Mereka terlalu mengedepankan sisi peniadaan kesamaan sehingga terjerumus dalam ta’thil (penolakan).

Ahlussunnah berada di tengah-tengah. Mereka mengimani dalil-dalil yang menetapkan nama dan sifat sekaligus mengimani dalil-dalil yang menafikan keserupaan. Sehingga mereka selamat dari tindakan tasybih maupun ta’thil.

Oleh sebab itu, mereka menyucikan Alloh tanpa menolak nama maupun sifat. Mereka menetapkan nama dan sifat tapi tanpa menyerupakannya dengan makhluk.

Inilah akidah yang dipegang oleh Rosululloh ﷺ dan para sahabatnya serta para imam dan pengikut mereka yang setia hingga hari ini. Inilah aqidah yang tersimpan dalam ayat yang mulia yang artinya, Alloh berfirman:

 “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”  (QS. Asy-Syuro [42]: 11)

Alloh Maha Mendengar dan juga Maha Melihat. Akan tetapi pendengaran dan penglihatan Alloh tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan makhluk. Meskipun namanya sama akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Alloh adalah Zat Yang Maha Sempurna sedangkan makhluk adalah sosok yang penuh dengan kekurangan.

Sebagaimana sifat makhluk itu terbatas dan penuh kekurangan karena disandarkan kepada diri makhluk yang diliputi sifat kekurangan. Maka demikian pula sifat Alloh itu sempurna karena disandarkan kepada sosok yang sempurna. Sehingga orang yang tidak mau mengimani kandungan hakiki nama-nama dan sifat-sifat Alloh sebenarnya telah berani melecehkan dan berbuat lancang kepada Alloh .

Di dalam ayat ini Alloh menamai diri-Nya dengan Ar-Rohman dan Ar-Rohiim. Di dalamnya terkandung sifat Rohmah (kasih sayang). Akan tetapi kasih sayang Alloh tidak serupa dengan kasih sayang makhluk.

Tafsir Ayat Keempat

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Artinya: “Yang Menguasai pada hari pembalasan.”

Syeikh as-Sa’di  berkata: Maalik adalah zat yang memiliki kekuasaan atau penguasa. Penguasa itu berhak untuk memerintah dan melarang siapapun yang berada di bawah kekuasaannya. Dia juga yang berhak untuk mengganjar pahala dan menjatuhkan hukuman kepada mereka. Dialah yang berkuasa untuk mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya menurut kehendaknya sendiri.

Bagian awal ayat ini boleh dibaca Maalik (dengan memanjangkan mim) atau Malik  (dengan memendekkan mim). Maalik maknanya penguasa atau pemilik. Sedangkan Malik maknanya raja.

Yaumid diin adalah hari pembalasan. Disebut sebagai hari pembalasan karena pada saat itu seluruh umat manusia akan menerima balasan amal baik maupun buruk yang mereka kerjakan sewaktu di dunia.

Pada hari itulah tampak dengan sangat jelas bagi manusia kemahakuasaan Alloh terhadap seluruh makhluk-Nya. Pada saat itu akan tampak sekali kesempurnaan dari sifat adil dan hikmah yang dimiliki Alloh. Pada saat itu seluruh raja dan penguasa yang dahulunya berkuasa di alam dunia sudah turun dari jabatannya. Hanya tinggal Alloh sajalah yang berkuasa.

Pada saat itu semuanya setara, baik rakyat maupun rajanya, budak maupun orang merdeka. Mereka semua tunduk di bawah kemuliaan dan kebesaran-Nya. Mereka semua menantikan pembalasan yang akan diberikan oleh-Nya. Mereka sangat mengharapkan pahala kebaikan dari-Nya. Dan mereka sungguh sangat khawatir terhadap siksa dan hukuman yang akan dijatuhkan oleh-Nya.

Oleh karena itu di dalam ayat ini hari pembalasan itu disebutkan secara khusus. Alloh adalah penguasa hari pembalasan. Meskipun sebenarnya Alloh jugalah penguasa atas seluruh hari yang ada. Alloh tidak hanya berkuasa atas hari kiamat atau hari pembalasan saja.

Tafsir Ayat Kelima

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Dialah Alloh yang menguasai hari pembalasan

Makna ayat ini adalah, ‘Kami menyembah-Mu dan kami tidak menyembah selain-Mu. Kami meminta tolong kepada-Mu dan kami tidak meminta tolong kepada selain-Mu.

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Alloh. Ibadah bisa berupa perkataan maupun perbuatan. Ibadah itu ada yang tampak dan ada juga yang tersembunyi. Kecintaan dan ridha Alloh terhadap sesuatu bisa dilihat dari perintah dan larangan-Nya. Apabila Alloh memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu dicintai dan diridai-Nya. Dan sebaliknya, apabila Alloh melarang sesuatu maka itu berarti Alloh tidak cinta dan tidak ridha kepadanya.

Di antara bentuk ibadah adalah do’a, berkurban, bersedekah, meminta pertolongan atau perlindungan, dan lain sebagainya. Dari pengertian ini maka isti’anah atau meminta pertolongan juga termasuk cakupan dari istilah ibadah. Lalu apakah alasan atau hikmah di balik penyebutan kata isti’anah sesudah disebutkannya kata ibadah di dalam ayat ini?

 

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Didahulukannya ibadah sebelum isti’anah ini termasuk metode penyebutan sesuatu yang lebih umum sebelum sesuatu yang lebih khusus. Dan juga dalam rangka lebih mengutamakan hak Alloh ta’ala di atas hak hamba-Nya….”

Beliau pun berkata, “Mewujudkan ibadah dan isti’anah kepada Alloh dengan benar itu merupakan sarana yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan yang abadi. Dia adalah sarana menuju keselamatan dari segala bentuk kejelekan. Sehingga tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan perantara kedua hal ini.

Ibadah hanya dianggap benar apabila bersumber dari Rosulullah  dan ditujukan hanya untuk mengharapkan wajah Alloh. Dengan dua perkara inilah sesuatu bisa dinamakan ibadah. Sedangkan penyebutan kata isti’anah setelah kata ibadah padahal isti’anah itu juga bagian dari ibadah maka sebabnya adalah karena hamba begitu membutuhkan pertolongan dari Alloh ta’ala di dalam melaksanakan seluruh ibadahnya.

Tafsir Ayat Keenam

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

Maknanya: “Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.” Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Alloh dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya.

Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do’a ini merupakan salah satu do’a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba.

Tafsir Ayat Ketujuh

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ

Artinya: “Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka.”

Orang-orang yang diberi nikmat oleh Alloh telah disebutkan dalam ayat lain, yaitu para Nabi, orang-orang yangshiddiq/jujur dan benar, para pejuang Islam yang mati syahid dan orang-orang salih.

Termasuk di dalam cakupan ungkapan ‘orang yang diberi nikmat’ ialah setiap orang yang diberi anugerah keimanan kepada Alloh ta’ala, mengenal-Nya dengan baik, mengetahui apa saja yang dicintai-Nya, mengerti apa saja yang dimurkai-Nya, selain itu dia juga mendapatkan taufik untuk melakukan hal-hal yang dicintai tersebut dan meninggalkan hal-hal yang membuat Alloh murka. Jalan inilah yang akan mengantarkan hamba menggapai keridhaan Alloh ta’ala. Inilah jalan Islam I yang ditegakkan di atas landasan iman, ilmu, amal dan disertai dengan menjauhi perbuatan-perbuatan syirik dan kemaksiatan.

غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Artinya: “Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.”

Orang yang dimurkai adalah orang yang sudah mengetahui kebenaran akan tetapi tidak mau mengamalkannya. Contohnya kaum Yahudi dan semacamnya. Sedangkan orang yang tersesat adalah orang yang tidak mengamalkan kebenaran gara-gara kebodohan dan kesesatan mereka. Contohnya orang-orang Nasrani dan semacamnya.

Kesimpulan Isi Surat

Surat ini mengandung intisari ketiga macam tauhid. Di dalam penggalan ayat Rabbil ‘alamiin terkandung makna tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Alloh dalam hal perbuatan-perbuatanNya seperti mencipta, memberi rezeki dan lain sebagainya.

Di dalam kata Alloh dan Iyyaaka na’budu terkandung makna tauhid uluhiyah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Alloh dalam bentuk beribadah hanya kepada-Nya.

Demikian juga di dalam penggalan ayat Alhamdu terkandung makna tauhid asma’ wa sifat. Tauhid asma’ wa sifat adalah mengesakan Alloh dalam hal nama-nama dan sifat-sifatNya.

Selain itu surat ini juga mencakup intisari masalah kenabian yaitu tersirat dari ayat Ihdinash shirathal mustaqiim. Sebab jalan yang lurus tidak akan bisa ditempuh oleh hamba apabila tidak ada bimbingan wahyu yang dibawa oleh Rosul.

Surat ini juga menetapkan bahwasanya amal-amal hamba itu pasti ada balasannya. Hal ini tampak dari ayat Maaliki yaumid diin. Karena pada hari kiamat nanti amal hamba akan dibalas.

Dari ayat ini juga menerangkan bahwa balasan yang diberikan itu berdasarkan prinsip keadilan, karena makna kata diin adalah balasan dengan adil. Bahkan di balik untaian ayat ini terkandung penetapan takdir. Hamba berbuat di bawah naungan takdir, bukan terjadi secara merdeka di luar takdir Alloh sebagaimana yang diyakini oleh kaum Qadariyah (penentang takdir). Dan menetapkan bahwasanya hamba memang benar-benar pelaku atas perbuatan-perbuatanNya. Hamba tidaklah dipaksa sebagaimana keyakinan kaum Jabriyah. Bahkan di dalam ayat Ihdinash shirathal mustaqiim itu terdapat intisari bantahan kepada seluruh ahli bid’ah dan penganut ajaran sesat. Surat ini juga mengandung makna keharusan untuk mengikhlaskan ketaatan kepada Alloh .

 

Ust. Solahudin, Lc., M.A.